5. hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada
Engkaulah Kami meminta pertolongan.
Hanya kepada-Mu, kami menyembah, dan
hanya kepada-Mu, kami mohon pertolongan. Ungkapan ini memberi pelajaran kepada
manusia, bahwa Allah tidak sekedar memberi petunjuk, rambu-rambu, atau
kode-kode, tetapi menuntun, membimbing secara bertahap dan berproses menuju
jalan yang lurus. Ungkapan itu, adalah doa yang dituntun langsung oleh Allah
swt yang setiap shalat diucapkan. Sebagai refleksi doa yang dipanjatkan
kehadirat Allah harus ditempatkan sesudah beribadah, meski ibadah itu sendiri
juga doa, tetapi doa tidak langsung. Jika dikaitkan dengan hubungan antar
sesama, maka tidak pantas orang menuntut hak, sementara, kewajiban tidak atau
belum dilaksanakan, atau belum selesai dilaksanakan.
6. Tunjukilah Kami jalan yang lurus,
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
Jalan yang lurus, meskipun telah dibeberkan secara gamlang kepada umat manusia
melalui utusan-utusan Allah, nabi-nabi, shahabat dan pengikut-pengikutnya,
tidak serta merta, orang-orang tertarik, lantas memilih. Masih butuh waktu dan
proses. Islam adalah agama rasional, maka untuk menuju Islam (jalan lurus)
membutuhkan pemikiran, perenungan, penghayatan, pembuktian, bahkan pengorbanan
yang tidak sedikit. Mereka yang telah beragama Islam pun belum tentu melalui
jalan yang lurus itu. Maka Allah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk selalu
berdo’a “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”. Begitulah kasih sayang Allah
kepada umat manusia yang tidak terbatas. Sebagai refleksi, manusia dalam kesesatan atau
tidak, sudah pada jalan yang lurus atau belum, tidak sepantasnya bersikap
angkuh, manusia bagaimanapun juga tetap manusia, sebagai makhluk, yang lemah. Petunjuk
ke jalan lurus berada digenggaman Allah, bukan di tangan Nabi dan Rasul, bukan
pula di tangan Malaikat, apalagi di tangan-tangan manusia yang sok angkuh. Maka
manusia harus senantiasa berdo’a “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat
kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka
yang sesat.
Jalan lurus adalah jalan yang
ditempuh oleh Nabi-Nabi, orang-orang jujur, pejuang-pejuang syahid dan
orang-orang shaleh yang telah diberkati nikmat oleh Allah swt. Jalan lurus
dibentangkan Allah dalam bentuk teori dan praktek dan dipaparkan melalui
berbagai ungkapan yang variatif: argumentatif, logis, historis, naratif, puitif
dan intuitif, pertanyaan dan jawaban. Jalan lurus telah dicontohkan dalam dunia
nyata oleh Rasulullah saw bersama shahabat-shahabatnya yang setia setiap saat
untuk berjuang dan berkorban penuh keyakinan tanpa keragua-raguan. Bolehlah
orang mencontoh yang paling sederhana yang paling bawah, yaitu orang-orang
shaleh yang mungkin ada di sekelilingnya atau hidup di sekitar tempat
tinggalnya. Namun meniru orang-orang shaleh pun tak semudah membalikkan tangan.
Sebab kriteria orang shaleh adalah bukanlah orang fasek dan bukan pula orang dhalim. Ada tips menjadi
orang shaleh (1) mendirikan shalat malam (2) dzikir malam yang lama (3) membaca
Alqur’an dan mentababburi maknanya (4) sering berpuasa (5) bergaul dengan
orang-orang shaleh.
Jalan lurus bukan jalannya
orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalannya orang-orang sesat. Hal ini
lebih mempertegas dan lebih memperjelas tentang jalan lurus. Kalau orang tidak
tahu sejarah Nabi, tidak tahu sejarah orang-orang jujur, tidak tahu perilaku
orang-orang shaleh, maka upayakan agar tidak masuk ke dalam kelompok
orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat. Orang-orang yang dimurkai
Allah adalah orang-orang yang fasek dan orang-orang yang dhalim. Sedangkan
orang-orang sesat adalah orang kafir, orang musyrik dan orang munafik. Orang
fasek itu orang yang biasa melakukan dosa kecil dan dianggap remeh atau sepele.
Dhalim artinya menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Orang dhalim berarti
orang yang melakukan hal-hal yang tidak pantas, misalnya: menyakiti dirinya
sendiri, menyakiti orang lain, menghina, menghardik, mencela. Mungkin fasek
lebih ke arah hubungan dengan Allah swt. Dan dhalim lebih berkaitan dengan
manusia. Tetapi semua berpusat kepada Allah, karena manusia sebagai hamba-Nya.
Banyak istilah-istilah untuk orang-orang buruk, seperti: mujrimin, atsimin,
mublisin, musrifin, mu’tadin, mudhillin, mufarrithin (melalaikan), mu’ridhin,
mumtarin, muftarin (mengada-ada), zani, fahisy, ashi’, hasidin, dll. Kafir adalah
orang yang mengingkari nikmat Allah, lawan Syakir (orang yang bersyukur),
tetapi sering diartikan atheis, orang yang tidak bertuhan. Musyrik orang yang
bertuhan lebih (menyekutukan Allah). Dan munafik adalah orang yang berpura-pura
beriman, ia sejahat-jahat manusia dan lebih jahat dari iblis.


Posting Komentar