Kasih sayang Allah diberikan kepada
semua makhluknya yang ada di jagad raya
ini tanpa kecuali. Keberadaan semua makhluk yang asalnya tiada kemudian
diadakan adalah wujud kasih sayang-Nya, Lebih-lebih makhluk selain manusia,
seperti : binatang, tumbuh-tumbuhan, matahari, bumi, laut, dll semuanya untuk
manusia. Walhasil, kasih sayang Allah sangat luar biasa kepada manusia.
Kepada
manusia pun Allah tidak pilih kasih. Semua diberi rahmat dan kasih sayang-Nya,
termasuk orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang ada di jalan sesat,
seperti: orang fasik, dhalim, kafir, musyrik dan munafik. Sayangnya, kemudian
rahmat Allah yang diberikan kepada golongan tertentu dijustivikasi atau diklaim
sebagai golongan yang lurus. Sungguh sesuatu kekeliruan besar. Tetapi memang
itulah retorika iblis menggoda manusia. Mereka lalu merasa pada jalan yang
benar, padahal sesat. Orang-orang kafir yang diberi rizki banyak, bukan karena kekafirannya
melainkan memang itu rizki-Nya yang diberikan Allah sesuai jalur yang ditempuh
tanpa ada kaitan beriman atau tidak. Ada ulama yang menafsiri sebagai istidraj
(jawa: nglulu). Sebagai refleksi, manusia seharusnya juga menyayangi secara
tulus kepada sesama manusia tanpa pilih kasih.
Kemudian dengan sifat Rahim
ditegaskan bahwa di akhirat kelak Allah memberi rahmat dan kasih sayang hanya
kepada penghuni syorga. Sementara selainya tidak. Dan akhirat adalah hari
pembalasan. Syafaat yang diberikan Allah kepada Nabi Muhamad saw pun hanya
berkaitan dengan orang-orang selamat. Tidak ada kaitan dengan orang-orang
sesat, kafir, musyrik, apalagi munafik musuh bebuyutan umat Islam. Sebagai
refleksi, manusia muslim tidak boleh mendoakan atau memintakan ampun kepada
Allah untuk orang-orang sesat.


Posting Komentar