Untuk meraih mahligai kebesaran
menurut Rasulullah saw dalam sebuah hadits: (1) seseorang harus mengenakan
perhiasan sejati berupa rasa malu, karena malu sebagian dari iman, (2)
seseorang harus memakai pakaian taqwa serta (3) seseorang harus memiliki kendaraan yang
handal dan tangguh serta mampu melindungi penumpangnya (tidak mudah rusak) dari
cidera dan cacat fisik. Kendaraan di sini yang dimasud adalah kesabaran yang
prima. Tanpa ketiga hal tersebut, mahligai kebesaran tak mungkin dapat diraih
meski dengan pengorbanan harta dan uang
yang banyak.
Pertama, seseorang harus
mengenakan perhiasan sejati berupa rasa malu. Seseorang yang memiliki rasa
malu, akan mampu menepis segala perbuatan yang memalukan dan perbuatan yang
menurunkan harga diri. Contoh perbuatan yang memalukan adalah terlibat dalam
perzinaan, pelacuran, perselingkuhan yang
kini marak di tengah masyarakat, apalagi mencuri . merampok , mencopet, menipu,
dll. Sedangkan perbuatan yang menurunkan harga diri adalah makan di
tempat-tempat hiburan atau pesta pernikahan sambil berdiri apalagi berjoged,
makan di warung-warung tepi jalan, makan sambil berjalan di mall-mall, apalagi
dengan pakaian membuka aurat, pakai celana pendek, celana ketat, tidak
mengenakan jilbab atau bergaul dengan mereka. Masyarakat Indonesia cenderung
latah meniru gaya berpakaian turism, para selebritis yang cenderung
meninggalkan norma Islami. Itulah penghalang untuk meraih kebesaran di sisi
Allah swt dan di mata dunia.
Kedua, seseorang harus
memakai pakaian taqwa. Pakaian taqwa dipakai tidak sedekarnya saja, lantas
sewaktu-waktu dilepas seperti pakaian kebesaran. Orang yang bertaqwa sekedarnya,
tidak sungguh-sungguh, sama seperti orang memiliki rasa malu kepada manusia. Ia
melaksanakan perintah-perintah Allah sekedar menggugurkan kewajiban dan sebatas
pantas dipandang muslim di mata mereka. Sehingga manakala sendirian tidak ada
orang, ia meninggalkan shalat dan melakukan dosa-dosa yang tidak diketahui oleh
orang lain. Dengan demikian pakaian taqwa yang sebenarnya adalah pakaian yang
selalu dipakai secara rapi dan konsisten tanpa melihat situasi dan kondisi.
Bahkan ia memilih pakaian yang indah-indah untuk dikenakan dengan cara
melaksanakan perimtah-perintah Allah yang wajib dan perintah-perintah-Nya yang
sunah, seperti: shalat malam, shalat Dhuha, berzikir, puasa sunah Senin –Kamis,
banyak berbuat ikhsan atau berbuat baik kepada orang lain, bersedekah,
bersilaturahim, dll.
Ketiga, seseorang harus
memiliki kendaraan yang handal dan tangguh yang mampu melindungi penumpangnya
(tidak mudah rusak) dari cidera dan cacat fisik. Artinya, meskipun dalam
lingkungan orang-orang yang menghina, mengejek, mencerca dan mencaci maki, ia
tabah dan sabar, tidak mudah terpancing untuk marah apalagi dendam. Hampir
persoalan konflik, pertengkaran, pertikaian, perselisihan sampai pada
permasalahan rumah tangga dan perceraian tidak terlepas dari sikap marah dan
emosi yang tidak terkendali. Dengan demikian sebegitu besar peran dan pengaruh
kesabaran yang ada pada diri seseorang untuk menggapai atau tidak sebuah
mahligai kebesaran atau singgasana kerajaan. Allah sendiri baru akan memberi pertolongan
terhadap hamba-Nya, ketika hamba itu mampu bersikap sabar dan mendirikan
shalat. Allah berfirman :” Hai orang-orang yang beriman,
jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang sabar”(QS 2:153).
Perlu diketahui
bahwa sikap sabar itu tidak ada
batasnya. Artinya, meskipun dalam jangka panjang seseorang diuji oleh Allah swt,
seseorang harus selalu sabar. Dan di situlah letak kunci mencapai sukses yang
tiada duanya untuk menggapai mahligai kebesaran. Contohnya, seperti : Nabi Nuh
yang kaumnya beratus-ratus tahun enggan untuk beriman. Nabi Musa menghadapi
Fir’aun dan kaumnya. Nabi Yusuf sampai dipenjara yang akhirnya menduduki tahta
kerajaan. Menunggu datangnya pertolongan Allah dengan penuh kesabaran, meski
dalam tempo yang cukup lama adalah bentuk ibadah kepada Allah swt. Bukan sebuah
kekalahan apalagi kehinaan atau kerendahan. Kesabaran manusia seringkali kalah
dengan kesabaran binatang semut ketika membawa makanan dan terus jatuh. Belum
terdengar semut yang putus asa, lalu meninggalkan makanan. Semoga kita mampu
meniru kesabaran semut dalam upaya menggapai kesuksesan besar menyambut masa
depan yang gemilang. Amien.Klik link1

Posting Komentar