Ketidakberdayaan manusia, pertama,
disebabkan oleh keterbatasan dana (fakir miskin). Tetapi mengapa mereka
seringkali diperlakukan tidak adil di hadapan hukum. Orang kaya justru bebas
atau kebal dari jeratan hukum meskipun salah, sementara mereka yang melarat
tadi ditahan masuk penjara karena dituduh salah meskipun benar. Bahkan
perlakuan tidak adil terhadap mereka berlanjut ketika dalam tahanan. Terkadang
tubuhnya disakiti, disiksa jika mereka tidak patuh memberi uang atau rokok.
Mereka jadi bulan-bulanan dan sapi perahan setiap saat oleh oknum-oknum
tertentu pada setiap lapisan yang katanya instruksinya dari lapisan paling
atas.
Mereka yang semestinya mendapatkan
hak perlindungan dari penguasa atau pemerintah serta keamanan masyarakat
lingkungannya, justru diperlakukan sebaliknya. Padahal mereka membutuhkan
perhatian, bantuan dan dukungan, baik
dukungan moral, maupun dukungan spiritual.
Ketidakberdayaan masyarakat kedua,
disebabkan oleh faktor cacat badan. Tetapi cacat badan tidak sepenuhnya jadi
penghalang untuk sukses. Mereka memperoleh hak pula untuk menikmati pendidikan.
Jika sampai ada orang yang tega memeras orang cacat, sungguh sangat keterlaluan
dan tidak berperikemanusiaan. Orang cacat dengan modal kecacatannya disuruh
meminta-minta di tempat ramai, sementara hasilnya dirampas. Lebih buruk lagi
menjadi pengemis dengan pura-pura cacat dengan memoles tubuhnya sedemikian rupa
agar nampak cacat sungguh-sungguh, padahal dia normal dan sehat.
Mereka yang cacat badan
seharusnya memperoleh perhatian dan kasih sayang dari keluarga atau familinya
atau masyarakat lingkungannya. Tidak sekedar perhatian, bantuan ataupun
dukungan, tetapi harus sampai menyentuh pada lubuk hati mereka, yang disebut
empati agar mereka tidak kena penyakit rendah diri, murung atau cacat mental.
Kasihan mereka sudah cacat fisik, jangan sampai cacat mental.
Ketidakberdayaan masyarakat ketiga,
disebabkan oleh faktor profesi sebagai pekerja, buruh, atau PRT (pembantu rumah
tangga). Mereka yang menyandang profesi seperti di atas, termasuk golongan
orang-orang lemah yang susah diajak
maju. Mereka merasa puas dengan upah rendah, yang penting bisa untuk makan
sehari-hari. Mereka kadang berpikir tidak di PHK sudah untung. Dulunya saja
sewaktu mencari pekerjaan harus membayar segala. Mereka hidup di bawah
pengawasan orang lain, tidak sebebas seperti menjadi pedagang.
Sungguhpun demikian, mereka
adalah manusia yang memmiliki harkat dan martabat. Mereka perlu dimotivasi,
agar menjadi orang sukses dengan beralih profesi sebagai wirausahawan, atau
pedagang seperti yang dicontohkan Rasulullah. Sehingga mereka hidupnya tidak
menjadi budak orang lain, tetapi menjadi hamba Allah. Maka orang sukses adalah
orang yang sepenuhnya mengabdi kepada Allah dengan ketulusan hati. Tidak sampai
menjadi hamba yang lain, meskipun dalam kondisi serba terbatas. Allah berfirman
: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan
sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. “(QS 2: 155)
Orang yang berprofesi sebagai
pekerja, buruh, pegawai atau PRT, tidak lepas dari adanya rasa kekhawatiran
kalau suatu saat dipecat, karena mereka mencari penghidupan di bawah kekuasaan
pihak lain. Kecuali mereka yang berdedikasi tinggi dan berprestasi. Namun
demikian meraka tetap menjadi kelompok orang-orang lemah yang perlu mendapat perlindungan, agar tidak
semena-mena diperlakukan kasar oleh majikannya. Tidak jarang ditemukan kasus,
majikan menyiksa PRT, bahkan memperkosa, lantas membunuh untuk menghilangkan
jejaknya.
Keempat, ketidakberdayaan
masyarakat disebabkan oleh faktor usia, yaitu mereka yang sudah berusia di atas
60 tahun. Mereka disebut orang-orang jompo atau orang lanjut usia (Lansia).
Mereka harus dihormati dan dihargai di tengah-tengah masyarakat. Apalagi
sebagai orang tua yang berjasa melahirkan, memelihara, bahkan mendidik. Seorang
anak harus berbakti kepada kedua orang tuanya. Allah berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain
Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut
dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada
keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”(QS 17:23).
Di era globaliasi ini, orang sibuk
bekerja mencari uang. Terkadang karena kesibukannya, ia lupa dengan orang tua.
Tidak bersilaturahim, apalagi melayani sepenuhnya kebutuhan orang tua. Lebih
naif lagi, orang tua dijadikan pembantu untuk mencuci piring dan mengasuh
cucunya, sementara dia sibuk keluar mencari uang. Hal-hal seperti ini sudah
mulai menggejala di tengah-tengah masyarakat kita. Anak semestinya bersyukur
karena orang tua masih hidup dan masih ada kesempatan untuk berbakti
seluas-luasnya. Ia harus fokus betul berbakti kepada orang tua menjelang akhir
hayatnya, agar kelak tidak kecewa. Orang lain saja harus melayani dan membantu
segala kebutuhan Lansia, apalagi lansia itu adalah orang tuanya sendiri.
Ketidakberdayaan masyarakat yang
disebabkan oleh empat hal di atas sebagaimana orang fakir, orang cacat, buruh
dan lansia, menyebabkan mereka rentan dengan berbagai musibah. Artinya tidak
sedikit di antara mereka yang tidak sanggup mempertahankan sebagai hamba Allah.
Lebih ayal lagi mereka mendapat perlakuan dari orang lain yang kurang
menguntungkan, malah menyengsarakan. Oleh karena itu Islam sangat menganjurkan
umatnya agar berbuat baik dan melindungi mereka. Rasulullah saw bersabda : “Ada
empat hal, barang siapa melakukannya, Allah akan menggelar rahmat-Nya dan
memasukkan ke syorga-Nya.(1) melindungi orang miskin (2) menyayangi orang lemah
(3)menemani budak (buruh) dan (4) sedekah kepada orang tua (lansia)” (HR.
Hakim).
Lapar, kekurangan harta, lemah
karena cacat dan lemah karena lansia adalah bagian dari musibah atau ujian
hidup. Mereka kuat atau tidak menghadapi ujian tersebut. Di antara mereka ada
yang diliputi rasa takut, tetapi rasa takutnya tidak terus-menerus. Mungkin
rasa takut yang dialami PRT lebih banyak daripada orang cacat, atau sebaliknya.
Semua tergantung iman dan cara merespon rasa takut itu. Jika rasa takut itu
menjadi keluh kesah, maka ia gagal menjadi hamba Allah. Apalagi rasa takut itu
mendorong untuk berbuat dosa. Contoh : karena takut disiksa lantas memberi
uang, karena takut ditahan lalu menyuap,
karena takut dipecat lalu memberi sesuatu, karena takut dikucilkan dari
teman-teman lantas mengikuti perintahnya meski salah, karena takut dihukum
berat lantas menyuap hakim agar ringan hukumannya dan seterusnya.
Mendasari hadits di atas,
sebenarnya ketidakberdayaan mereka adalah peluang emas bagi orang lain untuk
menolong dan membantu mereka agar benar-benar menjadi hamba Allah. Mereka
diberdayakan sungguh-sungguh melalui peduli amal kaum dhu’afa, pemberdayaan
masyarakat miskin, panti asuhan, pengasuhan dan pembimbingan orang-orang
cacat,, dan lain-lain. Tetapi mengapa mereka justru seringkali menjadi sapi
perahan yang diperas darahnya sampai kering dengan janji-janji manis dan
kekayaan yang melimpah. Terkadang mereka juga dijadikan proyek untuk memintakan
bantuan kepada lembaga dana dengan membuat proposal oleh LSM. Tetapi kemudian
begitu dana cair, dkorupsi oleh oknum LSM yang tidak bertanggung jawab.
Menurut Ibnu Khaldun di dalam
kitab “Muqodamah” yang ditulis beliau, bahwa manusia jika dilihat dari
profesinya bertingkat-tingkat dengan urutan sebagai berikut :
(1) Kelompok
ulama, muballigh dan tenaga profesional
(2) Kelompok
Pedagang, Pengusaha
(3) Kelompok
umaro, pejabat
(4) Kelompok
pegawai, buruh
(5) Kelompok
penganggur dan pengemis

Posting Komentar