BREAKING NEWS

Kamis, 29 Maret 2012

DIBALIK KETAKBERDAYAAN KAUM LEMAH


Ketidakberdayaan manusia, pertama, disebabkan oleh keterbatasan dana (fakir miskin). Tetapi mengapa mereka seringkali diperlakukan tidak adil di hadapan hukum. Orang kaya justru bebas atau kebal dari jeratan hukum meskipun salah, sementara mereka yang melarat tadi ditahan masuk penjara karena dituduh salah meskipun benar. Bahkan perlakuan tidak adil terhadap mereka berlanjut ketika dalam tahanan. Terkadang tubuhnya disakiti, disiksa jika mereka tidak patuh memberi uang atau rokok. Mereka jadi bulan-bulanan dan sapi perahan setiap saat oleh oknum-oknum tertentu pada setiap lapisan yang katanya instruksinya dari lapisan paling atas.

Mereka yang semestinya mendapatkan hak perlindungan dari penguasa atau pemerintah serta keamanan masyarakat lingkungannya, justru diperlakukan sebaliknya. Padahal mereka membutuhkan perhatian, bantuan  dan dukungan, baik dukungan moral, maupun dukungan spiritual.
Ketidakberdayaan masyarakat kedua, disebabkan oleh faktor cacat badan. Tetapi cacat badan tidak sepenuhnya jadi penghalang untuk sukses. Mereka memperoleh hak pula untuk menikmati pendidikan. Jika sampai ada orang yang tega memeras orang cacat, sungguh sangat keterlaluan dan tidak berperikemanusiaan. Orang cacat dengan modal kecacatannya disuruh meminta-minta di tempat ramai, sementara hasilnya dirampas. Lebih buruk lagi menjadi pengemis dengan pura-pura cacat dengan memoles tubuhnya sedemikian rupa agar nampak cacat sungguh-sungguh, padahal dia normal dan sehat.
Mereka yang cacat badan seharusnya memperoleh perhatian dan kasih sayang dari keluarga atau familinya atau masyarakat lingkungannya. Tidak sekedar perhatian, bantuan ataupun dukungan, tetapi harus sampai menyentuh pada lubuk hati mereka, yang disebut empati agar mereka tidak kena penyakit rendah diri, murung atau cacat mental. Kasihan mereka sudah cacat fisik, jangan sampai cacat mental.
Ketidakberdayaan masyarakat ketiga, disebabkan oleh faktor profesi sebagai pekerja, buruh, atau PRT (pembantu rumah tangga). Mereka yang menyandang profesi seperti di atas, termasuk golongan orang-orang  lemah yang susah diajak maju. Mereka merasa puas dengan upah rendah, yang penting bisa untuk makan sehari-hari. Mereka kadang berpikir tidak di PHK sudah untung. Dulunya saja sewaktu mencari pekerjaan harus membayar segala. Mereka hidup di bawah pengawasan orang lain, tidak sebebas seperti menjadi pedagang.
Sungguhpun demikian, mereka adalah manusia yang memmiliki harkat dan martabat. Mereka perlu dimotivasi, agar menjadi orang sukses dengan beralih profesi sebagai wirausahawan, atau pedagang seperti yang dicontohkan Rasulullah. Sehingga mereka hidupnya tidak menjadi budak orang lain, tetapi menjadi hamba Allah. Maka orang sukses adalah orang yang sepenuhnya mengabdi kepada Allah dengan ketulusan hati. Tidak sampai menjadi hamba yang lain, meskipun dalam kondisi serba terbatas. Allah berfirman : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. “(QS 2: 155)
Orang yang berprofesi sebagai pekerja, buruh, pegawai atau PRT, tidak lepas dari adanya rasa kekhawatiran kalau suatu saat dipecat, karena mereka mencari penghidupan di bawah kekuasaan pihak lain. Kecuali mereka yang berdedikasi tinggi dan berprestasi. Namun demikian meraka tetap menjadi kelompok orang-orang lemah yang  perlu mendapat perlindungan, agar tidak semena-mena diperlakukan kasar oleh majikannya. Tidak jarang ditemukan kasus, majikan menyiksa PRT, bahkan memperkosa, lantas membunuh untuk menghilangkan jejaknya.
Keempat, ketidakberdayaan masyarakat disebabkan oleh faktor usia, yaitu mereka yang sudah berusia di atas 60 tahun. Mereka disebut orang-orang jompo atau orang lanjut usia (Lansia). Mereka harus dihormati dan dihargai di tengah-tengah masyarakat. Apalagi sebagai orang tua yang berjasa melahirkan, memelihara, bahkan mendidik. Seorang anak harus berbakti kepada kedua orang tuanya. Allah berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”(QS 17:23).
Di era globaliasi ini, orang sibuk bekerja mencari uang. Terkadang karena kesibukannya, ia lupa dengan orang tua. Tidak bersilaturahim, apalagi melayani sepenuhnya kebutuhan orang tua. Lebih naif lagi, orang tua dijadikan pembantu untuk mencuci piring dan mengasuh cucunya, sementara dia sibuk keluar mencari uang. Hal-hal seperti ini sudah mulai menggejala di tengah-tengah masyarakat kita. Anak semestinya bersyukur karena orang tua masih hidup dan masih ada kesempatan untuk berbakti seluas-luasnya. Ia harus fokus betul berbakti kepada orang tua menjelang akhir hayatnya, agar kelak tidak kecewa. Orang lain saja harus melayani dan membantu segala kebutuhan Lansia, apalagi lansia itu adalah orang tuanya sendiri.
Ketidakberdayaan masyarakat yang disebabkan oleh empat hal di atas sebagaimana orang fakir, orang cacat, buruh dan lansia, menyebabkan mereka rentan dengan berbagai musibah. Artinya tidak sedikit di antara mereka yang tidak sanggup mempertahankan sebagai hamba Allah. Lebih ayal lagi mereka mendapat perlakuan dari orang lain yang kurang menguntungkan, malah menyengsarakan. Oleh karena itu Islam sangat menganjurkan umatnya agar berbuat baik dan melindungi mereka. Rasulullah saw bersabda : “Ada empat hal, barang siapa melakukannya, Allah akan menggelar rahmat-Nya dan memasukkan ke syorga-Nya.(1) melindungi orang miskin (2) menyayangi orang lemah (3)menemani budak (buruh) dan (4) sedekah kepada orang tua (lansia)” (HR. Hakim).
Lapar, kekurangan harta, lemah karena cacat dan lemah karena lansia adalah bagian dari musibah atau ujian hidup. Mereka kuat atau tidak menghadapi ujian tersebut. Di antara mereka ada yang diliputi rasa takut, tetapi rasa takutnya tidak terus-menerus. Mungkin rasa takut yang dialami PRT lebih banyak daripada orang cacat, atau sebaliknya. Semua tergantung iman dan cara merespon rasa takut itu. Jika rasa takut itu menjadi keluh kesah, maka ia gagal menjadi hamba Allah. Apalagi rasa takut itu mendorong untuk berbuat dosa. Contoh : karena takut disiksa lantas memberi uang, karena takut ditahan lalu menyuap,  karena takut dipecat lalu memberi sesuatu, karena takut dikucilkan dari teman-teman lantas mengikuti perintahnya meski salah, karena takut dihukum berat lantas menyuap hakim agar ringan hukumannya dan seterusnya.
Mendasari hadits di atas, sebenarnya ketidakberdayaan mereka adalah peluang emas bagi orang lain untuk menolong dan membantu mereka agar benar-benar menjadi hamba Allah. Mereka diberdayakan sungguh-sungguh melalui peduli amal kaum dhu’afa, pemberdayaan masyarakat miskin, panti asuhan, pengasuhan dan pembimbingan orang-orang cacat,, dan lain-lain. Tetapi mengapa mereka justru seringkali menjadi sapi perahan yang diperas darahnya sampai kering dengan janji-janji manis dan kekayaan yang melimpah. Terkadang mereka juga dijadikan proyek untuk memintakan bantuan kepada lembaga dana dengan membuat proposal oleh LSM. Tetapi kemudian begitu dana cair, dkorupsi oleh oknum LSM yang tidak bertanggung jawab.
Menurut Ibnu Khaldun di dalam kitab “Muqodamah” yang ditulis beliau, bahwa manusia jika dilihat dari profesinya bertingkat-tingkat dengan urutan sebagai berikut :
(1)    Kelompok ulama, muballigh dan tenaga profesional
(2)    Kelompok Pedagang, Pengusaha
(3)    Kelompok umaro, pejabat
(4)    Kelompok pegawai, buruh
(5)    Kelompok penganggur dan pengemis

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Wisata Rohani. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates