Manusia sudah
seperti robot yang dikendalikan oleh nafsu. Bukan manusia mengendalikan nafsu.
Itulah kesia-siaan hidup yang sebenarnya yang tidak disadari dan telah merasuk
hampir ke semua lapisan masyarakat. Sedemikian hebatnya nafsu yang
ada pada manusia, sampai-sampai ada manusia yang tega membunuh saudaranya hanya
karena soal rebutan harta. Dunia dan seisinya memang manis dan enak dinikmati.
Siapa sih, orangnya yang tidak ingin uang, harta dan kekayaan. Maka, wajar
mereka terpesona dengan dunia. Dan tidak ingin cepat mati meskipun sudah tua
dan sakit-sakitan. Allah berfirman : “Dan kehidupan dunia ini
tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.: “ (QS : 57 “ 20). Maukah kita
ditipu oleh kesenangan dunia yang akhirnya menjadi manusia yang sia-sia hidupnya. Karena
sedemikian hebatnya tipu daya kehidupan dunia dan moleknya serta anggunnya
dunia seisinya, sampai-sampai orang tergiur ingin memilikinya. Tetapi Shahabat Ali bin Abi Thalib terang-terangan
tidak suka dengan dunia sampai mengucapkan thalaq kepada dunia dengan ucapan:
“Wahai dunia, aku ceraikan kamu”
Bagaimana caranya agar hidup ini tidak sia-sia? Apakah dengan cara menceraikan dunia sebagaimana yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib? Atau tetap berkonsentrasi dengan dunia, karena dunia ini tempat hidup manusia. Untuk menjawab persoalan ini, barangkali perlu merenung tentang prilaku iblis yang mendapat laknat dari Allah swt. Iblis tidak patuh kepada perintah Allah karena sombong. Maka jika manusia ingin hidupnya tidak sia-sia, tinggalkanlah sikap sombong. Manusia sungguh tidak pantas berlagak sombong kepada sesama manusia yang sama-sama lemah, apalagi sombong di hadapan Allah swt. Namun kenyataannya tidak sedikit di antara mereka yang takabur. Mereka merasa paling kaya, paling unggul, paling pintar, paling benar, lantas menyepelekan orang lain, merendahkan, bahkan menghina tanpa ada rasa berdosa.
Dengan menjauhi sikap sombong,
berarti manusia sebagai hamba Allah harus sungguh-sungguh dan benar-benar memposisikan diri sebagai seorang
hamba, tidak lebih. Artinya harus tawadhu, patuh dan taat kepada Allah yang
menciptakannya tanpa reserve atau alasan apapun. Sehingga seluruh aktifitasnya
sesuai dengan perintah dan amanat Allah, dan dilakukan secara istiqomah, penuh
keikhlasan, tanpa dicampuri dengan dosa dan maksiat.
Kalau sebagian besar atau secara
total orientasi hidup manusia untuk kehidupan akhirat, Allah akan mengumpulkan
segala urusannya menjadi mudah. Dan orang-orang mu’min akan mendukung secara
ikhlas penuh kasih sayang atas segala urusannya. Dan Allah akan membantu
mempercepat segala urusan kebaikan. Rasulullah saw. bersabda : “Kosongkanlah
dirimu dari keinginan-keinginan dunia sekuatmu! Barang siapa yang menjadikan
dunia sebagai cita-cita utama, maka Allah akan meramaikan kesia-siaan hidupnya.
Dan akan menyukai (haus terhadap) benda-benda yang dilihatnya. Dan barang siapa
yang menjadikan akhirat sebagai cita-cita utama, maka Allah akan mengumpulkan
segala urusannya menjadi mudah. Dan Allah akan menjadikan ia kaya hati.
Seseorang yang menghadapkan hatinya kepada Allah, Allah akan menghadapkan hati
orang-orang mu’min cinta dan sayang kepadanya. Dan Allah akan mempercepat
setiap kebaikan kepadanya”. (HR. Thabrani).
Untuk menjadi manusia yang tidak
sia-sia hidupnya, tentu harus menjadi ulama. Artinya harus cerdas, pandai,
berwawasan luas sebagaimana Rasulullah saw, para shahabat, para ulama, para wali, dan orang-orang soleh
(salafus-shalihin). Allah swt berfirman : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah
dari hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”, (QS 35:28). Dengan demikian untuk menuju
tingkatan ulama, seseorang mau tidak mau harus terus-menerus belajar, menuntut
ilmu tanpa mengenal istirahat dan tanpa rasa malu. Apalagi kalau ia masih
berpengetahuan sedikit, sungguh masih jauh perjalanannya menuju “hidup penuh
makna tanpa kesia-siaan”.
Ingatlah, mencari ilmu itu wajib.
Dan akan ada saja rintangan yang bakal dihadapi oleh orang-orang yang sedang
mencari ilmu. Terkadang orang terlena dengan kesenangan yang sifatnya sementara
yang kini merebak dimana-mana, terutama akibat dari kemajuan di bidang
teknologi komunikasi. Anak-anak kita sudah dipegangi hp dan hampir semua
waktunya dihabiskan untuk bermain hp. Belajar menjadi tuntutan nomor dua atau
bahkan nomor sepuluh. Belum lagi bermain play station, video games, game
online, dan lain-lain. Na’udzu billah.

Posting Komentar