Meski
didera oleh himpitan ekonomi yang semakin keras, datangnya bulan mauled menjadi
sebuah payung yang memberi kesejukan bagi orang-orang ada di bawah naungannya.
Syakralan atau barzanjian yang diselingi dengan lagu shalawatan mampu mengusik
perasaan tertekan, pusing, bingung yang setiap hari dirasakan menghadapi hidup
yang semakin tidak menentu. Harga kebutuhan pokok melambung gara-gara BBM naik.
Setiap hari harus makan, sementara duit yang ia peroleh setiap hari masih belum
jelas sumbernya. Cari pekerjaan sulit. Membuat lapangan pekerjaan penuh dengan
rona spekulasi, belum lagi kalau gagal,
orang-orang tertawa.
Manusia
ketika diuji dengan kekurangan, menjadi tidak tenang. Yang kaya saja merasa
kurang, padahal harta kekayaannya melimpah. Apalagi yang miskin. Si miskin
bahkan si kaya masih belum mampu melihat kekayaan yang sebenarnya, yang digelar
Tuhan di muka bumi. Sehingga dengan sekedar kurang pada soal makan menjadi
serba gelisah dalam segala hal. Di saat bulan mauled saat orang-orang
berbondong-bondong ke masjid atau musholla untuk memperingati kelahiran
Rasulullah Muhamad saw. Yang namanya makanan, jajan dibagi-bagikan. Maka
wajarlah semua persoalan hidup terusik untuk beberapa hari karena adanya
makanan dan jajan itu. Kalau manusia gelisah ketika tidak ada makanan. Dan
senang kalau ada makanan. Maka tolok ukur senang dan tidak senang hanya pada
harta atau makanan.
Kesejukan
yang diperoleh dari perayaan mauled Nabi Muhamad saw bukan sekedar karena
adanya makanan atau jajan. Tetapi nilai nilai persaudaraan, kerjasama, guyub,
dan religiusitas yang tinggi dirasakan oleh mereka. Dan ternyata itu yang biasa
dilakukan oleh “muqorrobin” (orang-orang yang dekat dengan Tuhan). Dengan
demikian ada benarnya juga kalau mengikuti mauled Nabi bakal memperoleh
ketenangan dan kesejukan, bukan karena adanya makanan atau jajan/snack dalam
acara mauled.

Posting Komentar