Sehebat
apapun manusia, tidak memiliki apa-apa kecuali atas izin dan ridho Allah.
Demikian pula sekaya apapun manusia, tidak memiliki nilai kemuliaan dan harga
diri tanpa petunjuk dari Allah swt. Oleh karena itu, sukses pun tidak bisa
terlepas dari bingkai aturan Allah swt. Tidak sedikit orang sukses, tetapi
tidak memiliki kebahagiaan dan kemuliaan karena cara pemerolehannya melalui
jalan instant lalu jatuh tersungkur ke lembah kehinaan, atau mengalami kejayaan tetapi sifatnya sementara lantas
dirudung penderitaan yang datang silih berganti, kemudian berakhir dengan
kematian. Itulah sukses fatamorgana yang banyak dialami oleh berbagai kalangan
yang menjamur akhir-akhir ini yang lebih mengutamakan kulit daripada isi, lebih
mengutamakan penampilan lahir daripada kualitas penilaian di mata Allah swt.
Sukses
dunia akhirat telah dicontoh oleh Rasulullah saw yang wafat tidak meninggalkan
harta warisan. Kekayaan
istrinya
bernama Siti Khadijah dipergunakan seluruhnya
untuk jihad dan da’wah Islamiyah. Rasulullah saw meskipun sebagai Kepala Negara
dan Pemimpin Islam Dunia tidak pernah tidur di permadani indah, kasur yang
empuk, springbad, airbad, dll yang kini menjamur di mana-mana dan
tersedia di toko-toko sesuai kemajuan zaman. Tetapi Rasulullah saw tidur di atas tikar. Terkadang tidur di depan pintu menunggu istri bangun
dari tidurnya karena menghormati dan menyayangi betul istrinya. Kemudian
dicontoh oleh Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq yang seluruh kekayaannya juga
untuk Islam. Beliau pernah ditanya oleh Rasulullah saw ketika seluruh kekayaannya diserahkan untuk Islam. “Bagaimana dengan istri
dan keluarga?” Beliau menjawab: “Allah yang akan menjamin kehidupan mereka”
Begitulah keteguhan dan ketegaran “iman” shahabat Abur Bakar.
Ketika
Rasulullah saw
bertanya kepada seorang shahabat yang mau menginfakkan
hartanya “Berapa yang akan kamu infakkan untuk Islam?” Jawab shahabat :
“Semuanya, hai Rasul” “Jangan, terlalu banyak” jawab Rasul. Shahabat
berkata: “Separohnya, hai Rasul”, “Jangan, separoh termasuk banyak” jawab
Rasul. Akhirnya Rasul menetapkan agar shadaqah tidak melebihi sepertiga, karena
sepertiga juga termasuk banyak. Jika shadaqah melebihi sepertiga harus minta
persetujuan kepada istri dan keluarga.
Dari
uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa kualitas shadaqah tidak diukur dengan
sedikit banyaknya harta : semua harta, separoh, sepertiga atau seperempat, atau
seperlima, atau 2,5% tetapi diukur oleh semangat
ketaqwaan orang yang bershadaqah. Semakin semangat dan ikhlas beribadah dan bersedekah semakin kaya dan sukses, semakin banyak beramal dan berbuat baik serta banyak berkorban atas dasar cinta kepada Tuhan,
semakin jaya dan sukses dunia akhirat. Selamat berjuang untuk sukses dunia akhirat.

Posting Komentar