Sesuai dengan kebiasaan, orang
cenderung menyepelekan hal-hal yang kecil. Baik positif maupun negatif. Dan ini
termasuk kebiasaan buruk. Ia tidak menyadari bahwa yang kecil itu tidak begitu
lama akan menjadi besar. Dan dampaknya besar juga. Terjadinya sukses besar
dimulai dari sukses-sukses kecil. Demikian juga kasus besar dimulai dari
munculnya kasus-kasus kecil yang tidak disadari dan dirasakan.
Oleh karena itu
mulai saat ini, hati-hati dengan perkara kecil yang negatif, misal : malas,
menunda pekerjaan, melihat mainan, main game, menjulurkan kain, kacir rambut,
anting-anting satu, sebagai lambang kesombongan, dan lain-lain. Sebab meski
sepele dan awalnya iseng, akan menjadi kebiasaan buruk yang membahayakan.
Sebaliknya hal-hal kecil yang positif
tidak boleh disepelekan, seperti : mengucur air dari poci ke gelas orang yang
mau minum, menebar senyum, menyingkirkan duri di jalan, membuang sampah pada
tempatnya, membantu mengambil air dari sumur dan lain-lain. Sebab kebaikan
menyejukkan hati bagi yang melakukannya dan segera dirasakan manfaatnya secara
luas oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan balasan kebaikan dilipatgandakan
oleh Allah yang Maha Pemurah.
Jika kita mau memulai dari diri
kita sendiri melakukan hal-hal kecil yang positif, seperti melihat keindahan
alam ciptaan Allah, mendengarkan ayat suci Alqur’an, memikirkan dan
membayangkan hal-hal yang baik, kita telah meraih sukses kecil dan tidak lama
lagi segera diikuti sukses besar. Tunggulah apa yang akan terjadi. Sebaliknya, jika kita memulai melihat,
mendengarkan dan memikirkan hal-hal negatif, akan menjadi penghalang bagi
tercapainya kesuksesan. Bahkan jatuh ke tempat yang paling hina. Nabi Musa as
mendapatkan jodoh, dimulai dari perbuatan kecil ketika beliau pergi ke Madyan.
Kisah ini temaktub di dalam
Alqur’an surat Al-Qashash ayat 23-27, yaitu : 23. Dan tatkala
ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang
yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak
itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata:
"Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" Kedua wanita itu menjawab:
"Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala
itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah
lanjut umurnya." 24. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong)
keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya
Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau
turunkan kepadaku." 25. Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari
kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku
memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum
(ternak) kami." Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan
menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu'aib berkata:
"Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim
itu." 26. Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku
ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang
paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat
lagi dapat dipercaya." 27. Berkatalah dia (Syu'aib): "Sesungguhnya
aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas
dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh
tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak
memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang- orang yang
baik."
Jika seseorang tampil dengan
rambut kacir di kepalanya, lantas membayangkan penyanyi rok yang arogan dengan
pakaian urakan, maka langsung, tidak usah menunggu waktu lama, sikapnya,
perbuatannya, cara berjalan dan gaya bicaranya persis seperti penyanyi-penyanyi
barat. Mereka adalah orang-orang sombong yang merasa bahwa dunia adalah
miliknya. Kesombongan membuat orang lupa kepada Tuhan bahkan lupa kepada kawannya.
Ciri-cirinya, ia menyepelekan kewajiban dan aturan syari’at agama. Lalu
melakukan hal-hal yang makruh seperti merokok, bahkan menular ke
perbuatan-perbuatan yang haram, seperti : ganja, morfin, sabu-sabu, pil ekstasi
dan lain-lain. Ia terang-terangan menghina dan membangkang Allah dan
orang-orang sholeh yang dulu menjadi kawan akrabnya
Menyepelekan hal-hal yang kecil
adalah perwujudan dari sikap sombong. Jika seseorang menyepelekan hal-hal
kecil, berarti ia mempunyai sifat sombong atau takabur. Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong. Jika kawan-kawan mengajak untuk melakukan hal-hal sepele
yang negatif, tinggalkanlah. Karena apabila dituruti kemauannya, akan menjadi
bahan tertawaan orang. Orang-orang akan mengumbar aibnya, lalu jatuhlah harga
dirinya di mata mereka.
Hal-hal kecil yang positif pun
jika disepelekan oleh seseorang, ia akan dinilai kawan-kawannya sebagai orang
yang sombong. Contoh, jika seseorang berjumpa dengan kawannya di jalan, lantas
ia tidak menyapa, maka kawan itu menilai dan mengatakan kepada teman yang lain
bahwa dia sekarang sombong. Apalagi kalau saat berjumpa memalingkan muka. Itu
pertanda menebarkan permusuhan. Maka alangkah baiknya kalau bertemu dengan
kawan, menyapa sambil tersenyum,
menebarkan salam. Allah akan mencurahkan rahmat dan barokah-Nya kepada
mereka, meskipun sekedar melakukan hal-hal kecil yang dianggap sepele. Dalam
Islam, hal-hal kecil kalau disyari’atkan atau diperintahkan menjadi penting dan
besar manfaatnya, seperti : tersenyum, bersugi, uluk salam, membelai rambut
anaknya atau anak yatim, duduk bersama orang miskin, dan lain-lain. Selamat
berkarya.

Posting Komentar